Opening

welcome,have a nice day

Life is a chose(hidup itu memilih)

Jumat, 30 Januari 2009

Ada 2 bibit tanaman yang terhampar di sebuah ladang yang subur. Bibit yang pertama berkata, "Aku ingin tumbuh besar,aku ingin menjejakkan akarku dalam2 di tanah ini dan menjulangkan tunas2ku diatas kerasnya tanah ini. Aku ingin membentangkan semua tunasku untuk menyampaikan salam musim semi. Aku ingin merasakan kehangatan matahari dan kelembutan embun pagi di pucuk2 daunku"...Dan bibit itupun tumbuh,makin menjulang...

Bibit yang kedua berguman..."Aku takut,jika kutanamkan akarku ke dalam tanah ini,aku tak tahu apa yang akan kutemui dibawah sana.Bukankah disana sangat gelap? Dan jika kuteroboskan tunasku keatas,bukankah nanti keindahan tunas2ku akan hilang? Tunasku ini pasti akan terkoyak.Apa yang akan terjadi jika tunasku terbuka,dan siput2 mencoba untuk memakannya? Dan pasti jika aku tumbuh dan merekah,semua anak kecil akan berusaha untuk mencabutku dari tanah. Tidak! Akan lebih baik jika aku menunggu sampai semuanya aman"...Dan bibit itupun menunggu dalam kesendirian.
Beberapa pekan kemudian seekor ayam mengais tanah itu,menemukan bibit yang kedua tadi dan menaploknya segera.

Memang selalu ada saja pilihan dalam hidup. Selalu saja ada lakon2 yang harus kita jalani. Namun seringkali kita berada dalam kepesimisan,kengerian,keraguan,kebimbangan2 yang kita ciptakan sendiri. Kita kerap terbuai dengan alasan2 untuk tak mau melangkah,tak mau menatap hidup.
Karena hidup adalah pilihan, maka hadapilah itu dengan gagah..Dan karena hidup adalah pilihan,maka pilihlah dengan bijak...

Read more...

Pemimpin cacat ?????

Kriteria pemimpin yang terlupakan : bisa melihat, mendengar dan berbicara. Pemilihan pemimpin selama ini cenderung hanya berdasarkan harta, pangkat, kepintaran semata. Pokok hal yang utama dilupakan, moralitas pemimpin. Pemimpin yang bermoral minus akan membuat rakyat negeri yang dipimpinnya semakin sengsara. Kesejahteraan hanya menjadi konsep, sangat jauh dari realitas.
Pemimpin yang buta adalah karena mereka tidak bisa melihat penderitaan rakyat. Mereka hanya bisa melihat kemewahan yang ada disekitarnya. Mereka membutakan mata mereka sendiri dengan realitas masyarakat yang sengsara.
Tuli karena mereka tak mau mendengarkan keluhan rakyat yang dipimpinnya. Mereka hanya mendengarkan kata hati mereka yang selalu dianggap benar. Ego mereka terlalu besar untuk menjadi pemimpin.
Bisu, tatkala mereka tak mampu berkata-kata ketika penderitaan rakyat semakin parah. Mereka hanya diam dan menjauh begitu saja tanpa memberikan bantuan dan harapan kepada yang menderita.
Figur pemimpin yang adil semakin sulit untuk ditemukan. Sebab, mereka dipilih bukan dengan menunjuk dada mereka sendiri dan berkata, “Saya mampu memimpin negeri ini, Saya mampu mensejahterakan rakyat negeri ini!”
Coba Anda renungkan, pemimpin seperti apa yang adil itu?

Read more...

About This Blog

  © Blogger template Writer's Blog by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP